Refill Pejunya Boleh Kak?

Sosok bu Maura yang tegas seolah luntur di hadapan mataku sendiri. Air matanya berlinang, keluar dari matanya yang indah. Ia pun memelukku sambil menangis

Aku adalah seorang pekerja di salah satu restoran cepat saji, dari pagi hingga shift ku habis, aku selalu berada di meja kasir untuk melayani pengunjung. Tapi, ada rahasia gelap setelah shift ku habis. Selama aku bekerja disini, aku sudah menjadi simpanan dari manajer restoran.

Namanya Maura, manajer yang terbilang cukup tegas. Wanita dewasa, berkacamata, yang selalu melihat apapun secara detil. Bahkan tak jarang, suka turun tangan agar kinerja tim bisa terjaga.

Tapi, dibalik ketegasannya, bu Maura adalah bos yang peduli dengan pekerjanya. Sehingga, meskipun Maura tampangnya cukup sangar, tapi nyatanya bu Maura adalah bos yang baik.

Alasan aku menjadi simpanan bu Maura sebenarnya sangat unik, dan insidental. Sebelumnya, aku pernah memergoki bu Maura sedang asyik memuaskan dirinya sendiri di dalam ruangan kantornya. Awalnya, aku ingin pamit pulang karena shift kerjaku sudah selesai. Tapi, saat aku baru mau mengetuk pintu, suara desahan yang pelan mengalun indah masuk ke telingaku.

Barulah saat kubuka pintu kantor bu Maura, ternyata bu Maura sedang masturbasi. Tangan kirinya ada di bawah meja, menyentuh area sensitifnya, dan tangan kanannya meremas payudaranya yang ranum namun masih dibalut baju kerjanya.

“Bu, lagi ngapain? Ini masih sore bu.” Kataku yang masih kaget melihat kebinalan sosok yang begitu tegas ini sedang memuaskan dirinya sendiri.

“Um… Bayu… kenapa kamu ga ketok-ketok pintu?” Sahut bu Maura yang juga kaget terengah-engah saat melihatku.

“Bayu… maaf kalo kamu melihat ibu kaya gini. Tapi, kamu jangan salah paham.” Bu Maura pun langsung menarik lenganku, dan langsung mengunci pintu.

Aku tak tahu mau berkata apa. Mulutku seperti terkunci. Dan mulutku pun makin dibekap oleh bibir manis dan lembut bu Maura. Aku hampir kehabisan napas, saat bu Maura memainkan lidahku dengan lidahnya. Aku bingung mau berbuat apa, tanganku pun juga tak bisa kugerakkan karena masih dipegang oleh bu Maura.

“Bu… ada apa bu?” Tanyaku yang tak paham apa yang sedang terjadi.

“Bayu, maafin ibu. Sebenarnya ibu udah sering ngelakuin ini disini. Tapi, lagi apes aja kepergok sama kamu. Untung bukan sama yang lain.” Jawab bu Maura.

Sosok bu Maura yang tegas seolah luntur di hadapan mataku sendiri. Air matanya berlinang, keluar dari matanya yang indah. Ia pun memelukku sambil menangis.

“Bayu, sebenarnya ibu ngelakuin ini karena ibu terlalu binal. Ibu terlalu gampang terangsang. Ibu takut sebenarnya kalau orang lain tahu, bahkan pekerja ibu sendiri. Ibu ingin menjaga reputasi ibu demi keberlangsungan restoran kita.” Lanjut bu Maura.

“Terlebih, setelah kamu masuk restoran ini. Ibu jadi makin suka ketika melihat kerja kerasmu, disiplin dalam bekerja, dan… ibu ga sengaja melihat saat kamu ganti baju, kamu punya tubuh yang begitu atletis. Ibu ga tahan, dan ibu merasa terangsang melihat kamu, yang walaupun terlihat culun saat memakai seragam, tapi ternyata kamu sangat menggoda.” Bu Maura menggodaku. Dan, kenapa bu Maura mengintipku? Semua informasi yang masih kabur ini membuat otakku berhenti bekerja sejenak.

Bu Maura kemudian membuka seragamku, disaat aku tidak sadar dengan apa yang tengah terjadi sekarang. Aku bingung.

“Bu, maaf…” Ucapku. Tapi tanganku justru berkata lain. Tanganku justru ikut membuka pakaian bu Maura, memperlihatkan payudaranya, dengan puting yang sangat keras kelihatannya. Keringat di leher dan belahan dadanya juga menjelaskan, situasi disini sangat rumit.

Bu Maura pun kembali memelukku dengan erat. Menempatkan kepalaku ke dadanya, membenamkan wajahku di belahan payudara indahnya. Degup jantung bu Maura bisa kurasakan dengan begitu jelas.

“Bu… saya mau pamit pulang..” Kataku, yang saat itu wajahku masih dibenam oleh himpitan dua gunung milik bu Maura.

Bu Maura pun tersadar, dan langsung menyeka air matanya. Kemudian, pelukan erat bu Maura pun lepas. Seperti merasa tidak terjadi apa-apa, kami pun kembali mengenakan pakaian kami, dan keluar dari kantor dengan wajah memerah. Untung saat itu tidak ada siapa-siapa.

Sepulang dari sana, aku pun terbaring di atas pembaringan. Hingga suatu ketika, notifikasi HP ku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari bu Maura. Ada apa?

Ternyata, bu Maura mengirim foto setengah telanjang, dengan belahan dadanya yang sedikit terlihat, dan pahanya yang berisi tak terlindungi sehelai kain pun. “Besok, habis shift kamu, ikut ibu.” Begitu pesan dari bu Maura.

Aku akan dibawa kemana bersama bu Maura? Dan, apakah hanya kami berdua?

Besok harinya, setelah shift ku berakhir, aku menuju ke kantor bu Maura, ternyata dia sudah menungguku.

“Ayo, ikut ibu.” Kata bu Maura. Aku hanya bisa mengangguk. Pikiranku kacau, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah aku melakukan kesalahan fatal kemarin? Apakah karirku akan berakhir?

“Yang lain tidak diajak, bu?” Tanyaku.

“Tidak, Bayu, hanya kamu dan ibu saja.” Jawab bu Maura sambil tersenyum. Aku hanya bisa menunduk dan tetap mengikuti bu Maura tanpa bisa mengatakan sepatah katapun.

Tibalah kami di sebuah hotel. Aku tetap terus mengikuti bu Maura sampai tiba di sebuah kamar. Kamar yang cukup besar dan lega, tak sama dengan kamarku di kos. Kasurnya bersih, hawanya sejuk, dan cukup lengkap karena ada TV dan kulkas. Kamar hotel yang barangkali hanya orang seperti bu Maura saja yang bisa memesan.

Aku terus menunduk, seperti orang udik yang baru masuk ke lingkungan baru yang berbeda.

“Kamu duduk saja di kasur itu, Bayu.” Kata bu Maura.

“Ibu mau kemana?” Tanyaku.

“Ibu mau ke kamar mandi sebentar. Kamu duduk aja dulu.” Jawab bu Maura.

Bu Maura masuk ke kamar mandi sendirian, dan aku ditinggal di atas kasur putih ini. Kasur yang nyaman, yang membuatku hampir setengah mengantuk. Ditambah dengan tayangan di TV yang sangat membosankan, mengingat belum masuk jam prime time.

Baru sebentar memejam mataku, bu Maura keluar dari kamar mandi, dengan memakai pakaian yang hampir mirip seragam kerja yang tadi, tetapi lebih terbuka daripada sebelumnya, hampir seluruh bagian sensitif bu Maura terekspos. Putingnya menonjol walaupun tertutup kain, bagian perutnya terlihat dengan jelas, hingga bulu kemaluannya seperti tidak malu-malu menunjukkan dirinya.

“Bu…” Aku mencoba bertanya, tetapi tidak bisa. Seolah seluruh kosakata hilang lenyap dari kepalaku. Aku bingung, apa yang sebenarnya terjadi? Dan apa yang akan terjadi berikutnya? Semua pikiran itu melayang-layang seperti gumpalan awan di langit.

Bu Maura tampak lebih anggun, tapi di sisi lain, begitu liar. Tatapannya yang tajam seolah menembus hatiku, hingga aku membatu. Bu Maura lalu menghampiriku, dan menunduk tepat di depan wajahku. Belahan dadanya makin terlihat, dan aku tak bisa menoleh kemanapun. Seolah fokusku hanya tertuju pada dada, ah bukan, bu Maura.

“Kamu, belum pernah lihat kan sisi ibu yang ini?” Bu Maura bertanya seolah menggodaku. Aku hanya bisa mengangguk. Bu Maura menyentuh daguku dengan jarinya yang lembut, dan kembali menciumku.

Bibirnya yang lembut itu kembali mengajak bercumbu. Aku seperti terhipnotis.

“Bu, apa tidak apa-apa? Saya takut terjadi hal yang ga diinginkan kalau sampai terlalu jauh.” Kataku, dengan nada yang khawatir.

“Gapapa, Bayu. Kita aman disini. Buka bajumu, Bayu.” Kata bu Maura, dengan senyuman yang menggoda dan nakal. Aku hanya bisa menurut, tak bisa membantah.

Kini aku benar-benar telanjang bulat, seperti bayi yang baru dilahirkan. Bu Maura tersenyum.

“Ibu cuma pengen ngelihatin sisi ibu yang ini sama kamu aja, Bayu. Kamu suka punya bos binal, lacur seperti ini?” Sambung bu Maura.

“Bu, selagi ibu masih seperti biasanya di kantor, saya ga masalah bu.” Jawabku. Sebuah jawaban yang klise, kan?

“Ibu gamau ngelihatin sisi ini ke orang lain, kamu saja yang ibu percaya, apalagi karena baru kamu saja yang pernah mergokin ibu di kantor. Ibu percaya sama kamu, jadi tolong simpan rahasia ini buat kita berdua. Kalau di kantor, kita seperti biasa aja.” Kata bu Maura. Aku hanya bisa mengangguk.

Jujur, punya nafsu yang begitu besar terkadang membuat perasaan menjadi tidak nyaman, dan pasti profesionalisme seseorang, apalagi yang punya status tinggi, akan hilang seketika. Reputasi pasti hancur. Tapi, demi menghargai bu Maura, aku akan tetap menjaga rahasia ini untuk selamanya.

Bu Maura mulai kembali menciumku, memainkan lidahku dengan lidahnya yang lembut. Aku tak bisa melawan, justru malah makin ikut arus. Tanganku mulai memainkan payudaranya, mencubit putingnya, bahkan sampai meraba-raba liang kenikmatan bu Maura. Tampak di depan mataku bu Maura yang bahagia, mendesah seperti tak ada penghalang apapun.

Kami pun lanjut menelusuri tubuh masing-masing, memberi tanda di bagian-bagian tertentu, sebagai stempel bahwa untuk malam ini dan seterusnya, kami saling memiliki, dan tidak boleh ada yang merenggut kami. Dari leher hingga ke bagian betis, semua memerah karena kecupan yang bergairah.

Entah karena AC yang dingin atau kami yang antusias saling menjilati satu sama lain, yang namanya keringat seperti tidak punya eksistensi saat itu. Kami semakin bergairah, hingga ritual asmara terlarang itupun kami mulai.

Berbagai gaya kami lakoni, berbagai sudut kamar kami telusuri. Kursi, kasur, bahkan sampai harus bertempur di depan kulkas kecil, kadang aku di atas, kadang juga bu Maura yang menimpaku. Lubang kenikmatan bu Maura seperti mesin vakum yang siap menyedot cairan putih kehidupanku. Suasana malam itu sangat hidup meskipun hanya kami berdua didalamnya.

Aku tak bisa menghitung berapa lama kami melakukan ritual ini, tetapi yang aku ingat, cairan sperma sudah mengalir begitu saja di dalam lubang kenikmatan bu Maura, diapit oleh bibir labia yang tembam. Bulu-bulu yang tercukur rapi juga menambah keindahan area privat yang kini sudah kukuasai.

Bukan hanya sekali, yang kuingat aku bahkan melakukannya sampai 3-4 kali, sampai sekujur tubuh bu Maura, luar dan dalam, sampai ke dalam mulut bu Maura, dipenuhi oleh cairan cintaku.

Apakah tindakanku saat ini terlalu jauh? Aku bertanya pada diriku sendiri. Tetapi, jawabannya sudah terlihat dari wajah bu Maura, yang tersenyum bahagia walaupun telah kulecehkan berkali-kali.

Terakhir, aku diminta bu Maura mendokumentasikan hasil pergelutan malam ini. Cinta rahasia dan terlarang ini pun kami dokumentasikan hanya untuk kami berdua saja.

Sebelum ritual ini berakhir, bu Maura mengenakan topi yang biasa kukenakan saat bekerja di restoran, seraya berkata kepadaku: “Free refill pejunya boleh, mas?” Aku yang tadinya sudah sangat lelah, kembali bersemangat untuk acara puncak. Dan kali ini, bu Maura semakin brutal dan liar, menanggalkan sementara citra tegasnya hanya untuk satu malam, dan hanya untuk satu orang saja, yaitu aku.

Akhirnya kami tidur berdua, dengan senyum sumringah di wajah. Mumpung besok bukan shift ku, aku bisa menikmati malam berdua bersama bu Maura.

TAMAT